MANAJEMENPERSEDIAAN
TUGAS MANAJEMEN OPERASIONAL
Dosen Pembimbing : Tukhas Shilul Imaroh, Dr, MM
Ruang : B - 402
Oleh :
Nama
Kelompok
1.
Ella Anggraini
43116010249
2.
Cicha Dwi Anjasmara 43116010235
3.
Chintya Argaretha 43116010250
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS – MANAJEMEN S1
UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKRTA
UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKRTA
2017
A. PENDAHULUAN
Persediaan merupakan
salah satu aset yang paling mahal di banyak perusahaan,
mencerminkan sebanyak 40% dari total
modal yang diinvestasikan. Manajer operasi di seluruh dunia telah lama menyadari bahwa
manajemen persediaan yang baik itu sangatlah penting. Di satupihak, suatu
perusahaan dapat mengurangi biaya dengan cara menurunkan tingkat persediaan
ditangan. Di pihak lain, konsumen akan merasa tidak puas bila suatu produk
stoknya habis. Olehkarena itu, perusahaan harus mencapai keseimbangan antara investasi persediaan dan
tingkatpelayanan konsumen. Semua organisasi mempunyai beberapa jenis sistem
perencanaan danpengendalian persediaan.
Dalam hal produk-produk
fisik, organisasi harus menentukan apakah
akan membeli atau membuat
sendiri produk mereka. Setelah hal ini ditetapkan, langkah berikutnya adalah
meramalkan permintaan.
Kemudian manajer operasi menetapkan persediaan yang diperlukan untuk melayani permintaan tersebut. Pada makalah
ini, akan dibahas fungsi, jenis, dan pengelolaan persediaan.
Kemudian akan dibicarakan dua hal dasar
persediaan: berapa yang harus dipesan dan kapan
pemesanan dilakukan.
B. FUNGSI PERSEDIAAN
Persediaan (inventory)
dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah fleksibilitas
dari operasi suatu perusahaan. Ada enam
penggunaan persediaan, yaitu:
1.
Untuk memberikan suatu stok
barang-barang agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi
akan timbul dari konsumen.
2.
Untuk menyesuaikan produksi dengan
distribusi. Misalnya, bila permintaan produknya tinggi hanya pada musim panas, suatu
perusahaan dapat membentuk stok selama musim
dingin, sehingga biaya kekurangan stok dan
kehabisan stok dapat dihindari. Demikian pula, bila pasokan suatu perusahaan berfluktuasi,
persediaan bahan baku ekstra mungkin diperlukan untuk
"menyesuaikan" proses produksinya.
3.
Untuk mengambil keuntungan dari potongan
jumlah, karena pembelian dalam jumlah besar
dapat
secara substansial menurunkan biaya produk.
4.
Untuk melakukan hedging terhadap
inflasi dan perubahan harga.
5.
Untuk menghindari dari kekurangan stok
yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang
tidak tepat. "Stok pengaman" misalnya, barang di tangan ekstra, dapat mengurangi risiko
kehabisan stok.
6.
Untuk menjaga agar operasi dapat
berlangsung dengan baik dengan menggunakan "barangdalam- proses" dalam persediaannya.
Hal ini karena perlu waktu untuk memproduksi barang dan karena sepanjang berlangsungnya
proses, terkumpul persediaan-persediaan.
C. JENIS PERSEDIAAN
Perusahaan
mempertahankan 4 jenis persediaan: (1) persediaan bahan mentah, (2)
persediaan barang-dalam-proses (Work-in-process—WIP),
(3) persediaan MRO (perlengkapan pemeliharaan/perbaikan/operasi),
dan (4) persediaan barang jadi.
1. Persediaan bahan mentah
Persediaan bahan mentah
telah dibeli, namun belum diproses. Bahan mentahnya dapat
digunakan dari proses produksi untuk
pemasok yang berbeda-beda. Meskipun demikian,
pendekatan yang lebih disukai adalah
dengan menghapus variabilitas pemasok dalam hal mutu, jumlah, atau waktu
pengiriman sehingga tidak diperlukan pemisahan.
2. Persediaan barang-dalam-proses (Work-In-Process)
Persediaan
barang-dalam-proses telah mengalami beberapa perubahan, tetapi belum
selesai. WIP ini ada karena untuk
membuat produk diperlukan waktu (disebut waktu siklus).
Pengurangan waktu siklus menyebabkan
persediaan WIP pun berkurang. Sering kali hal ini
tidak sulit untuk dilakukan, karena
hampir di sepanjang waktu "pembuatan produk", produk itu sebenarnya menganggur. Waktu kerja
aktual atau waktu "jalan" merupakan bagian kecil dari waktu arus bahan baku, mungkin
hanya 5%.
Aliran Siklus Material
·
Run
time: Ada pekerjaan di mesin dan sedang dikerjakan
·
Setup
time: pekerjaan di work station, dan
sedang dilakukan pemasangan work station
·
Queue
time: Pekerjaan sudah berada pada tempat
seharusnya, tetapi belum diproses
·
karena
masih ada pekerjaan lain yang masih dikerjakan.
·
Move
time: Waktu yang dibutuhkan pekerjaan selama
dalam pengangkutan (transit)
·
Wait
time: Waktu ketika sebuah proses telah selesai
dilakukan, tetapi pekerjaan masih
·
menunggu
untuk dipindahkan ke area kerja selanjutnya.
·
Other:
Persediaan "Just-in-case".
3. MRO
MRO
merupakan persediaan yang dikhususkan untuk perlengkapan
pemeliharaan/perbaikan/
operasi. MRO ini ada karena waktu dan kebutuhan untuk
pemeliharaan dan perbaikan
dari beberapa peralatan tidak dapat diketahui. Walaupun
permintaan untuk persediaan
MRO ini sering kali merupakan fungsi jadwal-jadwal pemelih
araan, permintaan MRO
lainnya perlu diantisipasi.
4. Persediaan barang jadi
Persediaan
barang jadi selesai dan menunggu untuk dikirimkan. Barang jadi dimasukkan ke
dalam persediaan karena
permintaan konsumen untuk jangka waktu tertentu tidak diketahui.
D. MANAJEMEN PERSEDIAAN
Manajer operasi
dapat menetapkan suatu sistem untuk mengelola persediaan. Pada bagian ini,
secara singkat akan diulas
mengenai elemen-elemen sistem manajemen, yang meliputi:
1. Bagaimana mengelompokkan produk-produk persediaan (disebut
analisis ABC) dan
2. Bagaimana mempertahankan keakuratan catatan persediaan yang ada.
Kemudian, akan dibahas pengendalian persediaan di sektor jasa.
1. Analisis ABC
Analisis
ABC membagi persediaan yang ada ke dalam tiga kelompok berdasarkan volume
tahunan dalam jumlah uang.
Analisis ABC merupakan penerapan persediaan dari Prinsip
Pareto. Prinsip Pareto
menyatakan bahwa ada "beberapa yang penting dan banyak yang
sepele". Pemikiran yang
mendasari prinsip ini adalah bagaimana memfokuskan sumber daya
pada bagian persediaan
penting yang sedikit itu dan bukan pada bagian persediaan yang
banyak namun sepele. Untuk
menentukan nilai uang tahunan dari volume dalam analisis ABC, dilakukan pengukuran
permintaan tahunan dari setiap butir persediaan dikalikan dengan biaya per
unit.
Butir persediaan kelas A adalah
persediaan-persediaan yang jumlah nilai uang per tahunnya
tinggi. Butir-butir
persediaan semacam ini mungkin hanya mewakili sekitar 15% dari butir-butir persediaan
total, tetapi mewakili 70% sampai 80% dari total biaya persediaan. Butir persediaan. kelas B adalah butir-butir persediaan yang volume tahunannya (dalam nilai
uang) sedang. Butirbutir persediaan ini mungkin hanya mewakili 30% dari keseluruhan
persediaan dan 15% sampai 25% dari nilainya. Butir-butir persediaan yang volume tahunannya
kecil, dinamakan kelas C, yang mewakili hanya 5% dari keseluruhan volume tahunan tetapi
sekitar 55% dari keseluruhan
persediaan.Kriteria selain volume tahunan dalam nilai uang dapat menentukan
klasifikasi butir persediaan. Misalnya, perubahan teknis yang diantisipasi,
masalah-masalah pengiriman, masalah-masalah mutu, atau biaya per unit yang
tinggi dapat membawa butir persediaan yang menaik ke dalam klasifikasi yang
lebih tinggi. Keuntungan pembagian butir-butir persediaan ke dalam
kelas-kelas memungkinkan ditetapkannya kebijakan dan pengendalian untuk setiap
kelas yang ada. Kebijakan
yang dapat didasarkan pada analisis ABC mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Perkembangan sumber daya pembelian yang dibayarkan kepada pemasok
harus lebih tinggi untuk butir persediaan A dibandingkan butir persediaan C.
2. Butir persediaan A, berlainan dengan butir persediaan B dan C.
harus dikendalikan secara lebih ketat; mungkin karena butir persediaan A ini ditempatkan di
wilayah yang lebih tertutup
dan mungkin karena keakuratan catatan persediaannya harus lebih
sering diverifikasi.
3. Meramalkan butir persediaan A mungkin harus lebih berhati-hati
daripada meramalkan butir (kelas) persediaan yang lain.
4. Peramalan yang lebih baik, pengendalian fisik, keandalan pemasok, dan
pengurangan besar stok pengaman dapat dihasilkan oleh semua teknik manajemen
persediaan semacam analisis ABC.
2. Keakuratan Catatan
Persediaan
Keakuratan
catatan mengenai persediaan ini penting dalam sistem produksi dan
persediaan. Keakuratan ini memungkinkan
organisasi untuk tidak merasa yakin bahwa
"beberapa dari seluruh
produk" berada di persediaan dan memungkinkan organisasi untuk tidak hanya
memfokuskan pada butir-butir persediaan yang dibutuhkan. Bila hanya suatu
organisasi dapat secara akurat menentukan barang yang ada di dalam
persediaannyalah yang dapat dapat membuat keputusan yang tepat mengenai pemesanan, penjadwalan, dan
pengangkutan.
3. Penghitungan Siklus
Walaupun
suatu organisasi mungkin telah melakukan berbagai usaha untuk mencatat
persediaan secara akurat,
catatan atau arsip ini harus diverifikasi melalui pemeriksaan/audit
yang berkelanjutan. Audit
semacam ini disebut penghitungan siklus (cycle counting). Dulu,
banyak penghitungan
perusahaan mengambil persediaan fisik tahunan. Hal ini sering berarti
penghentian fasilitas siklus
produksi dan menyuruh orang-orang yang tidak berpengalaman
untuk menghitung komponen
dan bahan baku. Arsip persediaan harus diverifikasi melalui
perhitungan siklus.
Penghitungan siklus menggunakan klasifikasi persediaan yang
dikembangkan lewat analisis
ABC. Dengan prosedur penghitungan siklus, butir-butir persediaan
dihitung, arsip
diverifikasi, dan ketidakakuratan didokumentasi secara berkala.
Penyebab ketidak akuratan
ini kemudian dilacak dan tindakan perbaikan yang tepat
kemudian diambil sesuai
klasifikasi butir persediaannya. Butir persediaan A akan dihitung
secara rutin, mungkin sekali
sebulan; butir persediaan B kurang rutin, mungkin sekali dalam 4 bulan;
butir persediaan C akan dihitung mungkin sekali dalam setahun. Item tertentu
yang akan dihitung siklusnya dapat dipilih secara sekuensial atau acak
setiap harinya. Pilihan yang lain adalah menghitung siklus item ketika item tersebut dipesan ulang.
Penghitungan siklus juga mempunyai keuntungan sebagai berikut:
1. Menghilangkan penghentian dan interupsi produksi yang dibutuhkan
untuk persediaan fisik tahunan.
2. Menghilangkan penyesuaian persediaan tahunan.
3. Personel terlatih mengaudit akurasi persediaan.
4. Penyebab kesalahan dapat diidentifikasi dan tindakan pembetulan
dapat dilakukan
5. Mempertahankan catatan persediaan yang akurat.
4. Pengendalian Persediaan
dalam Industri Jasa
Manajemen persediaan di
sektor jasa juga perlu dibahas. Walaupun cenderung terdapat
anggapan bahwa di sektor
jasa tidak ada persediaan, sebenarnya tidak demikian. Misalnya,
persediaan yang berlebihan
ditahan di bisnis eceran maupun perdagangan besar, sehingga
manajemen persediaan menjadi
amat penting. Dalam jasa makanan, misalnya, pengendalian
persediaan dapat menentukan
keberhasilan atau kegagalan. Lebih jauh lagi, persediaan yang
singgah atau tidak terpakai
di gudang merupakan sesuatu yang nilainya telah hilang. Demikian pula,
persediaan yang rusak atau dicuri sebelum berhasil dijual merupakan kerugian. Dalam
bisnis eceran, persediaan yang tidak dicatat di antara penerimaan dan waktu
.penjualan dinamakan
penyusutan. Penyusutan ini terjadi karena pencurian, ataupun
administrasi yang
berantakan. Dalam bisnis eceran, pencurian disebut juga penyerobotan.
Kerugian persediaan eceran
yang berjumlah 1% dari angka penjualan dianggap tidak
membahayakan, karena
kebanyakan dari toko-toko eceran kerugiannya 3%. Pengaruh kerugian pada profitability
sangat substansial, konsekuensinya, keakuratan, dan pengendalian persediaan sangatlah
penting. Teknik-teknik yang dapat diterapkan mencakup:
1. Pemilihan karyawan, pelatihan, dan disiplin yang baik. Hal-hal ini
tidak perna mudah dilakukan, tetapi sangat penting dalam bisnis rnakanan,
perdagangan besar, dan operasi
bisnis eceran di mana karyawan-karyawannya mempunyai akses kepada
barang-barang yang langsung dapat dikonsumsi.
2. Pengendalian yang ketat atas kiriman barang yang datang. Hal ini
dilakukan berbaga perusahaan melalui pemakaian sistem kode-batang (bar code)
yang membaca semua kiriman yang masuk dan secara otomatis memeriksa isinya dengan
catatan pesanan pembelian.
3. Pengendalian yang efektif atas semua barang yang meninggalkan dari
fasilitas. Hal ini dilakukan dengan kode batang atau barang-barang yang
diangkut, garis magnetik di barang dagangan, atau karyawan-karyawan yang
ditempatkan di pintu ke luar dan di wilayahwilayah yang resiko kehilangannya
tinggi, seperti kasino di Las Vegas, melalui pengamatan langsung. Pengamatan
langsung berbentuk kaca satu arah, video, atau pengawasan oleh manusia.
E. MODEL PERSEDIAAN
Dalam
bagian ini akan dibahas mengenai berbagai model persediaan dan biaya yang
terkait
dengan berbagai model
persediaan tersebut.
1. Permintaan Dependen vs
Permintaan Independen
Model
pengendalian persediaan mengasumsikan bahwa permintaan untuk suatu barang
bersifat independen atau
dependen terhadap permintaan barang lainnya. Misalnya, permintaan untuk
kulkas bersifat Independen terhadap permintaan untuk oven pemanggangan roti. Meskipun
demikian, permintaan untuk oven pemanggangan roti bersifat dependen terhadap kebutuhan
produksi dari oven pemanggangan roti. Makalah ini memfokuskan pada manajemen barang-barang
yang permintaannya independent.
2. Biaya Penyimpanan, Biaya
Pemesanan, dan Biaya Pemasangan
a. Biaya Penyimpanan
Biaya
penyimpanan (holding cost) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan
penyimpanan atau
"penahanan" (carrying) persediaan sepanjang waktu tertentu.
Oleh
karena itu, biaya
penyimpanan juga mencakup biaya yang berkaitan dengan gudang, seperti
biaya asuransi, staffing tambahan,
dan pembayaran bunga. Tabel 1 menunjukkan jenis biaya
yang perlu dievaluasi untuk
menetapkan biaya penyimpanan ini. Banyak perusahaan yang
tidak berhasii memasukkan
semua biaya penyimpanan mereka. Konsekuensinya, biaya
penyimpanan persediaan
sering ditetapkan di bawah tingkat yang sebenarnya.
b. Biaya pemesanan
Biaya
pemesanan (ordering cost) mencakup biaya-biaya pasokan, formulir,
pemrosesan
pesanan, tenaga para
pekerja, dan sebagainya. Pada saat produk pesanan dibuat, timbul
pula biaya pemesanan, tetapi
biaya ini dikenal dengan nama biaya pemasangan.
c. Biaya pemasangan
Biaya
pemasangan adalah biaya pemasangan biaya-biaya untuk mempersiapkan mesin
atau proses unruk
memproduksi pesanan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya
pesanan dengan mengurangi biaya
pemasangan dan dengan menggunakan prosedur yang
efisien semacam pembayaran
dan pemesanan elektronik.
Di banyak organisasi, biaya
pemasangan secara erat berhubungan dengan waktu
pemasangan (setup time).
Pemasangan biasanya menuntut adanya sejumlah kerja tertentu
sebelum suatu operasi
betul-betul dijalankan di pusat kerja. Kebanyakan persiapan yang
diperlukan oleh pemasangan
dapat dilakukan sebelum penghentian mesin atau proses yang
ada. Waktu pemasangan dapat
secara substansial dikurangi. Mesin dan proses yang
biasanya memerlukan
berjam-jam untuk dipasang, kini dapat dipasang dalam waktu kurang
dari satu menit oleh para
produsen kelas dunia yang lebih imajinatif. Sebagaimana yang
akan ditunjukkan selanjutnya
di makalah ini, pengurangan waktu pemasangan merupakan
cara yang sangat baik untuk
mengurangai investasi persediaan dan memperbaiki
produktivitas.
Tabel
12. Penentuan Biaya Penyimpanan (Penahanan) Persediaan
Kategori
|
Biaya
Persentase Dari
Nilai
Persediaan
|
Biaya
penyimpanan, seperti sewa bangunan, penyusutan, biaya
operasi,
pajak, asuransi
|
6%
(3-10%)
|
Biaya
penanganan bahan baku, termasuk peralatan, sewa atau
penyusutan,
listrik, biaya operasi
|
3%
(1-3.5%)
|
Biaya
tenaga ker]a karena penanganan tambahan
|
3%
(3-5%)
|
Biaya
investasi, seperti biaya pinjaman, pajak, dan asuransi
Persediaan
|
11%
(6-24%)
|
Pencurian,
tergores, dan kelalaian
|
6%
(2-5%)
|
Biaya
keseluruhan penanganan persediaan
|
26%
|
CATATAN: Semua angkanya
berkisar kurang-lebih, karena angka-angka ini bervariasi
secara substansial,
tergantung sifat bisnis, lokasi. dan tingkat bunga berjalan, Setiap biaya
penyimpanan persediaan
kurang dari 15% sifatnya kurang-lebih tepat, tetapi biaya
penahanan persediaan sering
mencapai 40% dari nilai persediaan.
F. MODEL PERSEDIAAN UNTUK
PERMINTAAN INDEPENDEN
Pada bagian ini, akan
diperkenalkan tiga model persediaan yang mengedepankain dua
pertanyaan penting: kapan
pemesanan dilakukan dan berapa banyak yang akan dipesan. Modelmodel
permintaan independen ini
adalah:
1.
Model dasar Economic
Order Quantity (EOQ)
2.
Model Production Order
Quantity
3.
Model Quantity
Discount
Gambar 47. Penggunaan
Persediaan Sepanjang Waktu

1. Model Dasar Economic
Order Quantity (EOQ)
EOQ merupakan salah satu
teknik pengendalian persediaan tertua dan paling terkenal.
Teknik ini relatif mudah
digunakan, tetapi didasarkan pada beberapa asumsi:
1.
Tingkat permintaan diketahui
dan bersifat konstan.
2.
Lead time, yaitu waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan, diketahui,
dan bersifat konstan.
3.
Persediaan diterima dengan
segera. Dengan kata lain, persediaan yang dipesan tiba dalam bentuk
kumpulan produk, pada satu waktu.
4.
Tidak mungkin diberikan
diskon.
5.
Biaya variabel yang muncul
hanya biaya pemasangan atau pemesanan dan biaya penahanan atau
penyimpanan persediaan sepanjang waktu. Biaya-biaya ini dibahas di bagian sebelumnya.
6.
Keadaan kehabisan stok
(kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan dilakukan pada waktu
yang tepat.
Dengan
asumsi-asumsi di atas, grafik penggunaan persediaan sepanjang waktu bentuknya
seperti gigi ikan hiu,
seperti terlihat di Gambar 8.2. Pada Gambar 8.2, Q mewakili jumlah yang
dipesan. Bila jumlahnya 500
baju, keseluruhan 500 baju itu tiba pada satu waktu (pada saat
pesanan diterima). Maka,
tingkat persediaan meningkat dari 0 ke 500 baju. Secara umum, tingkat
persediaan meningkat dari 0
ke Q unit pada saat pesanan tiba.
Karena tingkat permintaannya
konstan sepanjang waktu, persediaan menurun dengan
tingkat yang sama sepanjang
waktu. (Lihat garis miring di Gambar 8.2). Ketika tingkat persediaan
mencapai 0, pesanan
baru.dibuat dan diterima, dan tingkat persediaan meningkat lagi ke Q unit
(diwakili oleh garis
vertikal). Proses ini terus terjadi sepanjang waktu.
2. Minimalisasi Biaya
Tujuan dari kebanyakan model
persediaan adalah untuk meminimisasi biaya total
(keseluruhan). Dengan
asumsi-asumsi yang baru saja diberikan di atas, biaya yang signifikan
adalah biaya pemasangan
pemesanan) dan biaya penahanan (penyimpanan). Biaya-biaya yang
lainnya, seperti biaya
persediaan itu sendiri, sifatnya konstan. Maka. dengan meminimisasi jumlah
biaya pemasangan dan
penahanan, kita juga meminimalisasi biaya total. Sebagai alat bantu
visualisasi hal ini, dalam
Gambar 8.3. diberikan grafik biaya total sebagai fungsi dari Order
Quantity (jumlah yang dipesan), Q. Ukuran pesanan optimalnya adalah Q*,
yang merupakan
jumlah pesanan yang
meminimisasi biaya total. Seiring dengan kenaikan jumlah yang dipesan,
biaya pemasangan, dan
pemesanan tahunannya akan menurun. Akan tetapi, seiring dengan
kenaikan jumlah yang
dipesan, biaya penahanan akan naik karena rata-rata persediaan yang
dijaga lebih besar.
Gambar 48. Biaya Total
sebagai Fungsi Pesanan

Perlu dicatat bahwa dalam
Gambar 48 di atas menunjukkan jumlah pesanan optimalnya
muncul di titik di mana
kurva biaya pemesanan dan kurva penyimpanannya berpotongan. Dengan
model EOQ, jumlah pesanan
optimal akan muncul di titik di mana biaya pemasangan totalnya
sama dengan biaya penahanan
total. Dengan menggunakan kenyataan ini, dikembangkanlah
persamaan yang langsung
mencari nilai Q*. Tahapan yang harus dilakukan adalah:
1. Mengembangkan persamaan
untuk biaya pemasangan atau pemesanan.
2. Mengembangkan persamaan
untuk biaya penahanan atau penyimpanan.
3. Menetapkan biaya
pemasangan sama dengan biaya penahanan.
4. Menyelesaikan persamaan dengan
hasil angka jumlah pesanan yang optimal.
Dengan menggunakan
variabel-variabel di bawah ini, biaya pemasangan dan penyimpanan
dapat ditentukan, sehingga
nilai Q* didapatkan dari:
Q = Jumlah barang setiap
pemesanan
Q* = Jumlah optimal barang
per pemesanan (EOQ)
D = Permintaan tahunan
barang persediaan, dalam unit
S = Biaya pemasangan atau
pemesanan untuk setiap pesanan
H = Biaya penahanan atau
penyimpanan per unit per tahun
1.
Biaya pemasangan tahunan = (jumlah pesanan yang dilakukan per tahun) (biaya pemasangan atau pemesanan setiap kali pesan)
=
2.
Biaya penyimpanan tahunan = (tingkat persediaan rata-rata)(biaya penyimpanan
penyimpana perunit per tahun)
=
3.
Jumlah pesanan optimal ditemukan pada saat biaya pemasangan tahunan sama dengan
biaya peyimpangan tahunan, yakni:
= =
4.
Untuk mendapatkan nilai Q*, lakukan perkalian silang dan pisahkan Q di sebelah
kiri tanda sama dengan.
2DS = Q2H
Q2 =
atau Q* =

Setelah membuat persamaan untuk mencari EOQ, Q*, masalah persediaan,
dapat
langsung
dipecahkan. Penetapan jumlah pemesanan yang ingin dibuat sepanjang tahun yang
bersangkutan
(N) dan waktu yang diinginkan antar-pemesanan (T), dapat dilakukan sebagai
berikut:
JumlahPemesananYangDiinginkan = N 
JumlahWaktuAntar PemesananYangDiinginkan
= T =
Sebagaimana telah dibahas di awal bagian ini, biaya persediaan tahunan
merupakan
penjumlahan
biaya pemesanan dan biaya penyimpanan:
Biaya
tahunan total= biaya pemesanan + biaya penyimpanan
Dalam
konteks variabel-variabel yang ada di model EOQ, biaya total dapat dituangkan
sebagai
beriku
:
TC = 
Persamaan
biaya persediaan total dapat ditulis dengan memasukkan biaya sebenarnya dari
material
yang dibeli. Jika kita mengasumsikan bahwa demand tahunan dan harga per
jarum
hipodermik
adalah variabel yang telah diketahui (misalkan 1000 hipodermik per tahun di
P=$10)
dan
biaya tahunan total juga termasuk biaya pembelian, maka
TC = 
Karena biaya material tidak tergantung
pada kebijakan pemesanan tertentu, maka biaya material
tahunan DxP=(1,000) x ($10)=$10,000.
Secara sederhana formulasi di atas dapat
diuraikan sebagai berikut:

Robust Model (Model Kuat).
Manfaat model EOQ yang kuat dapat memberikan jawaban
yang memuaskan meskipun terdapat
variabel substansial dalam parameternya. Seperti yang telah
diamati, menentukan biaya pemesanan
akurat dan biaya penyimpanan (holding cost) untuk
persediaan terkadang sulit.
Konsekuensinya, modul yang kuat itu sangat menguntungkan. Biaya
total EOQ merubah sedikit area minimum,
kurvanya akan sangat datar. Hal ini berarti varisi biaya
pemasangan, biaya penyimpanan, demand,
atau EOQ membuat perbedaan yang relatif kecil.
Perlu diperhatikan bahwa pengeluaran
yang dibuat dengan menggunakan estimasi demand
adalah salah, dan terkadang yang
dibayarkan 2% lebih tinggi apabila dibandingkan dengan
pengeluaran yang dikeluarkan jika sudah
mengetahui demand sebenarnya dan memesan
berdasarkan demand tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa EOQ cukup robust
dan error signifikan tidak terlalu membebani
perusahaan. Atribut model EOQ ini sangat
memadai digunakan karena kemampuan untuk
meramalkan demand, biaya penyimpanan,
dan biaya pemesanan secara akurat sangat terbatas.
3. Titik Pemesanan Ulang (Reorder Point)
Setelah menentukan
jumlah yang akan dipesan, maka ditentukan kapan pesanan akan
dilakukan. Model persediaan sederhana
mengasumsikan bahwa penerimaan suatu pesanan
bersifat seketika. Dengan kata lain,
model-model persediaan mengasumsikan bahwa suatu
perusahaan akan menunggu sampai tingkat
persediaannya mencapai nol sebelum perusahaan
memesan lagi, dan dengan seketika
kiriman yang dipesan akan diterima. Akan tetapi, waktu
antara dilakukannya pemesanan, disebut lead
time atau waktu pengiriman, bisa cepat, beberapa
jam atau lambat, beberapa bulan. Maka,
keputusan kapan-akan-memesan biasanya diungkapkan
dalam konteks titik pemesanan ulang,
tingkat persediaan di mana harus dilakukan pemesanan
(lihat Gambar 49)
Gambar 49. Kurva Titik Pemesanan Ulang

Titik pemesanan ulang (reorder point)
dicari dengan cara:
ROP =
(permintaan per hari)(/ead time untuk pemesanan baru dalam hari)
= d x L
Persamaan
di atas mengasumsikan bahwa permlntaannya sama dan bersifat konstan. Bila tidak demikian halnya, harus ditambahkan stok
tambahan, sering kali disebut stok pengaman (safety stock).
Permintaan
per hari, d, dicari dengan membagi permintaan tahunan, D, dengan jumlah hari
kerja per tahun:
d = 
Maka, pada saat tingkat persediaan turun ke tingkat 120
unit, perusahaan harus melakukan
pemesanan. Pesanan itu akan tiba dalam
waktu tiga hari, tepat pada saat persediaan perusahaan
telah habis.
4. Model
Production Order Quantity (POQ)
Pada model persediaan
sebelumnya, diasumsikan ahwa keseluruhan pemesanan
persediaan diterima pada satu waktu.
Meskipun demikian, ada saat-saat tertentu di mana sebuah
perusahaan dapat menerima persediaannya
sepanjang suatu periode. Keadaan seperti ini
mengharuskan pemakaian model yang
berbeda, yaitu model yang tidak memerlukan asumsi
penerimaan pesanan seketika. Model ini
dapat diterapkan ketika persediaan secara terusmenerus
mengalir atau terbentuk sepanjang suatu
periode waktu setelah dilakukan pemesanan
atau ketika produk diproduksi dan dijual
pada saat yang bersamaan. Dengan keadaan demikian,
kita dapat memasukan catatan tingkat
produksi atau arus persediaan setiap harinya, dan tingkat
permintaan setiap hari. Gambar 50.
menunjukkan tingkat persediaan sebagai fungsi dari waktu.
Gambar 50. Perubahan Tingkat Persediaan
Sepanjang Periode Waktu Tertentu Model POQ


Karena model ini cocok
untuk lingkungan produksi, model ini lebih dikenal dengan sebutan
model production order quantity atau
model jumlah produksi. Model ini berguna ketika persediaan
secara terus-menerus terbentuk sepanjang
waktu dan asumsi EOQ tradisionalnya valid. Model ini
dibuat dengan menetapkan biaya pemesanan
atau pemasangan sama dengan biaya
penyimpanan atau penahanan, sehingga
didapat Q*. Dengan menggunakan simbol-simbol
berikut, kita dapat menentukan persamaan
untuk biaya penyimpanan persediaan tahunan untuk
model pengoperasian produksi ini:
Q = Jumlah unit per pemesanan
H = Biaya penyimpanan per unit per tahun
p = Tingkat produksi tahunan
d = Tingkat permintaan harian atau
tingkat penggunaan
t = Lama jalannya produksi, dalam satuan
had
1. (Biaya Penyimpanan Persediaan Tahunan) = (Tingkat
Persediaan Tahunan) x (Biaya penyimpanan Per Unit)
= (Tingkat Persediaan Rata-Rata) x H
2. (Tingkat
Prsedian Maksimum) = (Total yang Diproduksi Selama Belanja Oprasi) – (Total
yang Terpakai Selama Belanja Oprasi)
= pt x dt
3. (Tingkat
Persedian Rata-Rata) = 
Tetapi
Q = total yang diproduksi = pt, dan oleh
karena itu, t= Q/p. Dengan demikian,
Tingkat Prsedian Maksimum =

=
Q
=

4.
Biaya penyimpanan persediaan tahunan =
Dengan menggunakan persamaan untuk biaya penyimpanan
di atas dan persamaan biaya
pemesanan yang dikembangkan pada model EOQ dasar.
Jumlah optimal per pemesanan
dapat dihitung dengan cara menyamakan biaya
pemesanan dan biaya penyimpanan:
Biaya Pemesanan = 
Biaya Penyimpanan = 
Q2 = 
Q* p = 




5. Model
Quantity Discounts
Untuk meningkatkan
penjualan, banyak perusahaan yang menawarkan potongan harga untuk para pelanggan mereka. Quantity
discount ini secara sederhana merupakan pengurangan harga (P) untuk barang yang dibeli
dengan jumlah yang lebih besar. Tidak terlalu luar biasa bila terdapat daftar potongan harga
dengan berbagai potongan untuk pesanan-pesanan dalam jumlah besar. Daftar potongan harga yang
biasa dipakai kami tampilkan pada Tabel 8.2.
Sebagaimana terlihat
pada tabel tersebut, harga normal untuk produk tersebut adalah $5. Bila dipesan sebanyak 1.000 sampai
dengan 1.999 pada waktu yang sama, harga per unit turun menjadi $4,80; dan bila jumlah yang
dipesan adalah sebanyak 2.000 unit atau lebih, harga per unit menjadi $4,75. Seperti biasa,
manajemen harus memutuskan kapan dan berapa banyak
pemesanan akan dilakukan. Akan tetapi,
dengan potongan harga, bagaimana seorang menajer operasi
membuat keputusan ini?
Bagi model persediaan
lain yang sejauh ini telah dibahas, tujuan keseluruhannya adalah minimisasi biaya total. Karena
biaya per unit untuk potongan harga ketiga pada Tabel 8.2. adalah yang paling rendah, konsumen
mungkin akan tergoda untuk memesan 2.000 unit atau lebih agar bisa memanfaatkan biaya produksi
yang lebih rendah. Memesan sejumlah itu mungkin tidak akan meminimisasi biaya persediaan
total. Dengan meningkatnya potongan harga, biaya produksi
menurun, tetapi biaya penyimpanan
meningkat karena pesanannya besar. Maka, trade-off pada saat kita mempertimbangkan potongan
harga terletak antara biaya produk yang berkurang dan biaya penyimpanan yang bertambah.
Bila kita memasukkan biaya produk, persamaan untuk biaya persediaan totalnya menjadi:
Biaya total = Biaya pemesanan + Biaya
penyimpanan + Biaya produk atau
TC = 
dengan,
Q= Jumlah unit yang dipesan
D = Permintaan tahunan dalam satuan unit
S = Biaya pemesanan per pemesanan
P = Harga per unit
H = Biaya penyimpanan per unit per tahun
Tabel
13. Skedul Jumlah Diskon
Nomor
Diskon
|
Jumlah
Diskon
|
Diskon
(%)
|
Harga
Diskon (P)
|
1
|
0
s.d. 999
|
0
|
$5,00
|
2
|
1.000
s.d. 1.999
|
4
|
$4,80
|
3
|
2,000
lebih
|
5
|
$4,75
|
Kini, harus ditentukan jumlah yang akan
meminimisasi biaya persediaan tahunan total. Karena
ada beberapa potongan harga, proses ini
meliputi empat tahap:
Tahap 1. Untuk
setiap potongan harga, hitunglah nilai Q*, dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
Q* = 
harus dicatat bahwa biaya penyimpanan
adalah IP, dan bukan H. Karena harga produk
merupakan faktor dalam biaya penyimpanan
tahunan, tidak dapat diasumsikan bahwa biaya
penyimpanan bersifat konstan ketika
harga per unit berubah untuk setiap potongan harga yang diberikan. Maka, biasanya biaya
penyimpanan (I) diungkapkan sebagai persentase dari harga per unit (P) bukan biaya per unit per
tahun yang konstan, H.
Tahap 2. Untuk
setiap tingkat potongan harga, bila jumlah pesanannya terlalu rendah untuk
mendapatkan potongan harga, sesuaikan
jumlah pesanan ke atas ke jumlah terendah yang
memungkinkan diperolehnya potongan
harga. Misalnya, bila Q* untuk potongan harga 2 pada tabel 2. adalah 500 unit, maka
dilakukan penyesuaian nilai ini sampai ke tingkat 1.000 unit. Lihat ke potongan harga kedua pada Tabel
2. Jumlah pesanan antara 1.000 dan 1.999
unit
akan mendapatkan potcngan 4%. Dengan
demikian, akan dilakukan penyesuaian jumlah pesanan sampai ke tingkat 1.000 unit bila
Q*nya kurang dari 1.000 unit.
Alasan dilakukannya
tahap kedua mungkin tidak terlalu jelas. Bila jumlah pesanannya
berada di bawah kisaran jumlah yang akan
memungkinkan perolehan potongan harga, jumlah di antara
kisaran ini mungkin tetap akan menghasilkan biaya total terendah.
Gambar 52. Kurva Biaya Total untuk Model
Quantity Discount

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 8.7.
kurva biaya total dibagi . menjadi tiga kurva biaya total. Ada kurva biaya total untuk
potongan harga yang pertama (0<.999), yang kedua
(1.000<.Q<_1.999), dan yang ketiga
(2.000<.Q). Lihat kurva biaya total (Tc) untuk potongan
harga 2. Q* untuk potongan harga 2
kurang dari kisaran potongan harga yang boleh diberikan, yaitu dari 1.000 sampai dengan
1.999 unit. Seperti yang terlihat pada gambar, jumlah pesanan terendah yang dapat diberikan
potongan harga pada kisaran tersebut, 1.000 unit, merupakan jumlah yang meminimisasi biaya
totalnya. Maka tahap kedua diperluka.n untuk memastikan bahwa kita tidak mengabaikan jumlah
pesanan yang mungkin malah menghasilkan biaya minimal. Catat bahwa jumlah pesanan yang
dihitung pada tahap 1
lebih besar dari kisaran yang akan
memungkinkan perolehan potongan harga dapat diabaikan.
Tahap 3. Dengan
menggunakan persamaan biaya total di atas, hitung biaya total untuk setiap Q* yang ditetapkan pada tahap 1 dan
2. Bila harus menyesuaikan Q* ke atas karena Q* tadinya berada di bawah kisaran
jumlah, pastikan bahwa menggunakan nilai Q* yang telah disesuaikan.
Tahap 4. Pilih
Q* yang biaya totalnya paling rendah seperti telah dihitung di tahap 3. Q*
dengan biaya total terendah ini merupakan
jumlah pesanan yang meminimkan biaya persediaan total.
G. MODEL PROBABILITAS DENGAN LEAD
TIME YANG KONSTAN
Semua model persediaan
yang telah dibahas sejauh ini membuat asumsi bahwa permintaan
untuk sebuah produk bersifat sama dan
konstan. Model persediaan berikut ini dipakai bila
permintaan produk tidak diketahui dan
dapat dispesifikasi lewat distribusi probabilitas. Jenis model seperti ini disebut model
probabilitas. Perhatian
penting manajemen adalah mempertahankan tingkat pemenuhan permintaan di tengah ketidakpastian permintaan.
Tingkat pemenuhan permintaan ini bersifat komplementer terhadap probabilitas terjadinya
kehabisan stok. Misalnya, bila probabilitas kehabisan stoknya adalah 0,05, maka tingkat pemenuhan permintaannyaadalah 0,95.
Permintaan yang tidak pasti memperbesar
kemungkinan terjadinya kehabisan stok. Satu metode untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kehabisan stok
adalah dengan menahan unit tambahan di persediaan untuk
menghindari kemungkinan itu. Hal ini meliputi penambahan jumlah unit stok
pengaman
sebagai penyangga titik pemesanan ulang.
Sebagaimana yang dibahas sebelumnya:
Titik
pemesanan ulang = ROP = d x L
d = permintaan harlan
L = lead time pemesanan atau
jumlah hari kerja yang diperlukan untuk mengirimkan pesanan.
Dimasukkannya stok
pengaman (ss) ke dalam penghitungan menyebabkan perubahan persamaan menjadi:
ROP
= d x L + ss
Jumlah stok pengaman tergantung biaya
terjadinya kehabisan stok dan biaya penyimpanan
persediaan tambahan.
Tujuannya adalah untuk
menemukan stok pengaman yang meminimalisasi total penyimpanan persediaan tambahan dan biaya
kehabisan stok persediaan tambahan total per tahun. Biaya
penyimpanan tahunan didapat dengan cara
mengalikan penyimpanan dengan jumlah unit yang ditambahkan
ke ROP baru.
Biaya kehabisan stok
lebih sulit dihitung. Untuk setiap tingkat stok pengaman, biaya kehabisan stoknya sebesar biaya yang
diharapkan. Biaya yang diharapkan dapat dihitung dengan mengalikan jumlah
kekurangan bingkai dengan probabilitas, dikalikan lagi dengan biaa kehabisan
stok, lalu dengan jumlah berapa kali dapat terjadi kehabisan stok (atau jumlah
pemesanan per tahun).
Kemudian, tambahkan biaya kehabisan stok
untuk setiap tingkat kehabisan stok yang mungkin untuk
ROP tertentu.
Bila untuk menentukan
biaya terjadinya kehabisan stok sulit atau tidak mungkin, seorang manajer dapat
memutuskan untuk mengikuti kebijakan menjaga stok pengaman di tangan
secukupnya agar dapat mencapai tingkat
pemenuhan permintaan komsumen yang ditetapkan. Misalnya,
Gambar 53. menunjukkan penggunaan stok pengaman pada saat permintaannya penuh kemungkinan-kemungkinan. Stok
pengaman di Gambar 8.8 adalah 16,5, dan titik pemesanan kembali juga dinaikkan sebesar
16,5.
Gambar 53. Permintaan Probabilitas

Manajer mungkin ingin
mendefinisikan level pelayanan hingga dapat memenuhi 95% demand
(atau sebaliknya, mengalami kehabisan
stok hanya 5% dari waktu). Dengan asumsi demand selama
lead time (periode
pemesanan ulang) mengikuti kurva normal, hanya rata-rata (mean) dan standar deviasi yang diperlukan untuk
mendefinisikan persyaratan persediaan untuk berbagai level
pelayanan. Data penjualan biasanya cukup
yntuk menghitung rata-rata dan standar deviasi. Dalam contoh berikut digunakan kurva
normal dengan mean (μ) yang diketahui dan standar deviasi (σ) untuk menentukan titik pemesanan
ulang dan stok pegaman yang dibutuhkan untuk level pelayanan 95%, menggunakan rumus berikut:
ROP
= demand yang diharapkan selama
lead time + Zσ
Dengan
Z
= jumlah standar deviasi
σ = standar deviasi lead time demand
Jika tidak ada data
mengenai lead time demand dan standar deviasi, maka persamaan tersebut tidak dapat digunakan dan harus
ditentukan jika: (a) demand adalah variabel dan lead time adalah konstanta; atau (b) baik demand atau
lead time adalah variabel. Untuk masing-masing situasi menggunakan rumus yang berbeda.
(a)
jika hanya demand yang variabel,
maka ROP = rata-rata demand harian x lead time dalam satuan hari + ZσdLT,
dengan σdLT= standar deviasi demand per hari =
d
(b)
jika hanya demand yang variabel,
maka ROP = demand harian x rata-rata lead time dalam satuan hari + ZdσdLT
(c)
jika keduanya variabel maka
ROP = Demand Haria Rata-rata
Lead Time Rata-rata
Z
(Lead TimeRata –rata
σ2d + d2 σ2LT)
H. SISTEM PERIODE TETAP
Model persediaan yang
dibahas pada makalah ini termasuk ke dalam kelompok model yang disebut sistem periode tetap. Dalam
arti, jumlah tetap yang sama ditambahkan ke dalam persediaan setiap kali dilakukan pemesanan.
Pemesanan sering dipicu oleh terjadinya titik pemesanan yang bisa terjadi kapan saja. Pada
sistem periode tetap, persediaan dipesan di akhir periode tertentu. Setelah itu, baru persediaan yang
ada dihitung. Yang dipesan hanya sebesar jumlah yang
diperlukan untuk menaikkan persediaan
sampai ke tingkat target tertentu. Gambar 8
mengilustrasikan konsep ini.
Keuntungan sistem
periode tetap adalah bahwa tidak ada penghitungan fisik atas unit yang dimasukkan ke persediaan setelah
ada unit yang diambil—penghitungan hanya terjadi bila tibawaktunya untuk
pengulasan yang berikutnya). Prosedur ini juga secara administratif lebih memudahkan, terutama bila
pengendalian persediaan hanya merupakan salah satu tugas karyawan. Sistem periode-tetap
sesuai untuk perusahaan yang secara rutin mengunjungi konsumen (dalam arti kunjungan dilakukan
dengan interval waktu yang tetap) untuk menerima pesanan baru atau untuk
pembeli yang ingin menggabungkan pesanannya agar biaya pemesanan dan pengangkutan
bisa dikurangi (dengan demikian, mereka akan mempunyai periode pengulasan yang sama
untuk butir persediaan yang serupa).
Kerugian diterapkannya
sistem ini adalah bahwa karena tidak ada segunung persediaan pada masa periode pengulasan, tidak
mungkin bagi perusahaan untuk mengalami kehabisan stok pada periode itu. Skenario ini mungkin
terjadi bila suatu pesanan dalam jumlah besar menarik tingkat persediaan ke bavvah sampai tingkat
nol segera setelah dilakukan pemesanan. Maka, harus dipertahankan tingkat
persediaan pengaman yang lebih besar (dibandingkan yang dianjurkan sistem
jumlah tetap) agar dapat melindungi perusahaan dari keadaan kehabisan stok
selama waktu lowong antara waktu pengulasan dengan lead time.
Gambar 54. Tingkat Ketersediaan dalam
Periode Tetap


Berbagai jumlah dipesan berdasarkan
jumlah yang diperlukan untuk menaikkan persediaan
sampai ke batasan target (tlngkaf
persediaan yang diinginkan).
RANGKUMAN
Persediaan adalah suatu produk yang
dicadangkan untuk mencukupi kebutuhan dalam kondisi tertentu. Tujuannya adalah untuk
merencanakan dan mengenadlikan tingkat persediaan agar dapat melayani kebutuhan
atau permintaan dari waktu kewaktu serta dapat meminimumkan biaya total
perusahaan. Bagi perusahaan, persediaan mencerminkan investasi besar. Investasi
ini sering lebih besar
dari pada yang seharusnya karena bagi perusahaan lebih mudah untuk memiliki persediaan”Just in case” daripada
persediaan “just in time”. Persediaan terdiri dari empat jenis :
1. Bahan
mentah dan komponen-komponen yang dibeli.
2. Barang
dalam proses (Work-In-Proses-WIP)
3. Pemeliharaan,
perbaikan, dan operasi
4. Barang
jadi
DAFTAR PUSTAKA
Benton W.C.& Michael Maloni. (2005).
“The Influence of Power Driven Buyer/Seller Relationships
on Supply Chain Satisfaction”.
Journal of Operation Management Vol. 23. pp 1-12.
Djoko Soejoto. 2005. Global
Manufacturing Management, Makalah kuliah umum pada Program
Pasca Sarjana Unibraw, tanggal 10 Mei
2005. Malang.
Eddy Herjanto, 2003. Manajemen
Produksi dan Operasi, Edisi Kedua Grasindo. Jakarta
Indrio Gitosudarmo, 2002. Manajemen
Operasi. BPFE-Yogyakarta
Indrajid, Richardus Eko & Richardus
Djokopranoto. 2005. Starategi Manajemen Pemeblian dan
Supply Cahain, Pendekatan Manajemen
Terkini, Untuk Menghadapi Persaingan Global.
Grasindo Indonesia, Jakarta.
Indrajid, Richardus Eko & Richardus
Djokopranoto. 2002. Konsep Supply Chain, Cara Baru
Memandang Mata Tantai Persediaan.
Widiasarana Indonesia, Jakarta,
Heizer. J & Render B, 2004. Operations
Management, Seventh Edition (IE) Prentice Hall. USA.
Hani Handoko, 2005. Dasar-Dasar
Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE-Yogyakarta
Krawjeski, Lee J. & Larry P.
Ritzman. 2002, Operation Managemen Strategi Analysis, Sixth
Edition,
Prentice Hall, New Jersey.
Lalu Sumayang, 2003. Dasar-Dasar
Manajemen Produksi dan Operasi, Salemba Empat. Jakarta
Lambert, D.M. & Harrington, T.C.
(1990), “Measuring nonresponse in customer service mail
surveys”.
Journal
of Business Logistics; Vol.11 no.2; pages 5-25.
Munjiati Munawaraoh, dkk,. 2004. Manajemen
Operasi. Unit Penerbiatan Fakultas Ekonomi. (UPFEUMY)
Yogyakarta.
Manahan P. Tampubolon, 2004. Manajemen
Opersional (Operations Management), Ghalia
Indonesia. Jakarta
Stank, T.P.; Keller, S. & Daugherty,
P.J. (2000), “Supply chain collaboration and logistical service
performance”,
Journal
of Business Logistics, Vol.22 no.1, pp. 29-48.
Tracey & Vonderembse. (2004). “Building
Supply Chain : A Key To Enhancing Manufacturing
Performance”.
Journal of Business Mid-American, Vol.15. pp 10-20.

Komentar
Posting Komentar